Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Melihat Lagi Kengerian Tsunami Saat Terjang Banyuwangi Tahun 1994


Indonesia berada di wilayah lingkaran rawan bencana dan membuatnya rentan terkena gempa dan tsunami. Beberapa waktu lalu peneliti ITB Sri Widiyantoro menyebut tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat.

Dan 12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi secara bersamaan. Tsunami juga berpotensi gempa besar (megathrust) akan terjadi. Riset tersebut berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat stasiun pengamat BMKG dan data Global Positioning System (GPS).

Salah satu tragedi tsunami yang diingat warga di selatan Jawa Timur yakni di Banyuwangi. Tsunami Banyuwangi dipicu gempa bumi dengan magnitudo 7,2 dan menyebabkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan.

Tragedi tsunami 1994 di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, masih melekat di benak masyarakat pesisir selatan. Tsunami Pancer terjadi pada 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tak hanya di Dusun Pancer, tsunami juga menerjang wilayah Rajegwesi, Lampon dan Pantai Grajagan dan Taman Nasional Alas Purwo.

Budi (50) salah satu warga Dusun Pancer yang selamat bercerita ombak tsunami menabrak rumahnya seperti kereta api. Tiba-tiba saja tembok rumahnya roboh diterjang ombak setinggi hampir 10 meter. Keras dan berwarna gelap. Rumahnya yang hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai, rata dengan tanah.


"Sempat mengintip di jendela seperti kereta api gitu. Besar dan gelap. Langsung kena terang itu seperti ditabrak kereta api," kata Budi.

Budi sempat mengamati keanehan Perairan Pantai Pancer. Karena pada saat itu pantai surut beberapa meter. Dirinya mengamati setelah pulang dari menonton wayang di sekitar rumahnya.

"Memang ada kabar gempa, tapi tidak terasa di pantai. Kalau tidak salah di sekitar Malang. Namun di sini yang kena tsunami pada saat itu," tambahnya.

Sementara menurut Siti Fatimah warga Dusun Pancer, tragedi tsunami 1994 di Banyuwangi disebut tragedi Jumat Pon karena terjadi pada Jumat Pon. Saat itu, Fatimah mengaku masih berusia 14 tahun. Dia bisa selamat setelah ibunya mengikatkan tubuhnya ke papan kayu. Dia ditemukan selamat di atas bukit.

"Saya hanya bisa nangis waktu itu. Ibu saya hanyut diterjang tsunami. Semuanya rata dengan tanah. Karena tinggi ombak itu setinggi pohon kelapa," ujarnya kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

Sumber Artikel